Amru Khalid
Ketika ketaatan berubah menjadi sekedar rutinitas maka berkuranglah rasa ketaatan dalam beribadah tersebut, idealnya setiap berangkat ke masjid, mengenakan hijab, atau aktivitas lainnya hendaklah selalu mengingat niat kita agar semangat dan keikhlasan kita baru kembali.
Imam Ibnu Taimiyah
Apa yang bisa dilakukan musuhku terhadapku? Taman dan kebunku ada di dadaku, jika aku pergi ia selalu bersamaku dan takkan meninggalkanku, jika aku dipenjara maka itulah khalwatku, jika aku dibunuh maka itulah syahidku, jika aku diusir dari negeri maka itulah tamasyaku.
Imam Ahmad
Jika suatu hari engkau sedang sendiri maka janganlah berkata, "aku tengah sendiri" tapi hendaklah engkau mengatakan bahwa engkau selalu berada di bawah pengawasan Allah.
APA YANG SALAH DENGAN ANAK KEMARIN SORE?
Tadi malam saya sempat menyaksikan diskusi (baca: debat) di salah
satu TV lokal Semarang, narasumbernya dari berbagai ormas Islam yang cukup
familiar di negeri ini. Sayang sekali diskusi (debat) yang harusnya mencari
solusi tersebut malah lebih cenderung menghakimi salah satu ormas
"baru" yang dianggap "membahayakan" persatuan dan kesatuan
kaum muslimin di Indonesia. Ada satu momen yang perlu saya garis bawahi, dan
masih sangat jelas dalam ingatan saya saat dimana salah satu tokoh ormas—yang meng-klaim
sebagai "omas besar" dan memiliki pengikut yang banyak—mengatakan
kepada kubu yang lain dengan perkataan yang sungguh tidak pantas diucapkan oleh
seorang panutan umat. Dia,tokoh ormas tersebut,berkata kepada ormas “baru” itu “mereka
ini anak kemarin sore dan belum lama ngaji, tahu apa mereka?”
tidak hanya itu, dia juga berulang kali memotong pembicaraan
pihak lain yang sedang berusaha mengklarifikasi pertanyaan-pertanyaan dari
pembawa acara dengan kalimat-kalimat yang semakin menunjukkan kalau dia
berbicara atas dasar nafsu semata. Sungguh sangat tidak layak dan sangat jauh
dari akhlak para ulama-ulama generasi terbaik umat ini yaitu generasi para
shahabat dan tabi’in dimana mereka—para shahabat dan tabi’in—lebih mengedepankan
sifat lemah lembut dan menghargai pendapat orang lain sekalipun usianya jauh
lebih muda darinya.
Masih ingatkah kita kisah amirul mukminin Umar bin Abdul
Aziz dengan putranya (Abdul Malik)? Ketika itu beliau (Umar bin Abdul Aziz) dalam
keadaan luar biasa lelah setelah seharian berurusan dengan urusan kaum
muslimin. Sesampainya di rumah beliau hendak qailulah (tidur sejenak
menjelang dzuhur) untuk mengurangi sedikit rasa lelahnya. Namun seketika itu
juga datanglah Abdul Malik dan berkata, “Apakah ayah hendak tidur sebelum
mengembalikan hak orang-orang yang dizalimi?” Amirul mukminin menjawab, “Wahai
anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman,
nanti jika tiba waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku
kembalikan hak orang-orang yang dizalimi kepada pemiliknya, insya Alloh.”
kemudian Abdul Malik berkata lagi, “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup
hingga datang waktu dhuhur wahai amirul mukminin?”. Seketika itu juga Umar bin
Abdul Aziz terhenyak dan hilanglah semua rasa kantuk yang ada pada diri beliau,
kembaililah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau
berkata “Mendekatlah engkau Nak, segala puji bagi Alloh yang telah mengeluarkan
dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.”
Sungguh betapa luar biasanya akhlak seorang ayah sekaligus seorang
pemimpin umat yang mau mendengarkan dan melaksanakan nasihat “anak kemarin sore”
yang tidak lain adalah putranya sendiri, Abdul Malik. Hal itu membuktikan bahwa
beliau (Umar bin Abdul Aziz) adalah pribadi yang jujur terhadap kebenaran dan
membuang jauh-jauh sifat sombong yang senantiasa menolak kebenaran karena alasan
ini dan itu. Shahabat ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu
‘anhu pernah berkata :
إِنَّ اْلحَقَّ لاَ يُعْرَفُ بِالرِّجَالِ,
اِعْرِفِ اْلحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ
“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun
kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.
Jadi, apa yang salah dengan “anak kemarin sore” jika yang mereka katakan
dan suarakan adalah kebenaran, tentunya kebenaran yang bersumber dari Al Quran
dan Sunnah yang shahih.
wallohu a’lam bisshowab.
(nawizam/muslimisme)
Syuraih Al Qadhi: Berkeluh kesahlah kepada Alloh!
Syuraih al Qadhi merupakan salah satu bagian
dari generasi thabi’in yang hidup di zaman khalifah Umar bin Khattab radhiallohu 'anhu. Beliau dilahirkan di Yaman
kota Al Kindi, hidup lama dalam masa jahiliyah dan ketika cahaya hidayah dating
di jazirah Arab dan memancarkan sinarnya hingga ke Yaman maka beliau termasuk
orang pertama yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya.
Nama aslinya ialah Syuraih bin Al Harits al
Kindi, mendapat gelar Al Qadhi setelah diangkat menjadi Qadhi (hakim) oleh
amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallohu 'anhu. Syuraih al Qadhi adalah
seorang yang jujur dan mampu mewujudkan nasihat
yang baik bagi Alloh, Rosul, dan kitab-Nya . Tidak hanya itu, beliau juga mampu
mewujudkan nasihat bagi kaum muslimin secara umum maupun secara khusus
(pemimpin mereka).
"sesungguhnya barangsiapa yang mengeluh kepada selain Alloh berarti dia mengeluhkannya kepada teman atau kepada musuh. Jika mengeluh kepada teman berarti kamu telah membuat temanmu bertambah sedih… dan jika engkau keluhkan terhadap musuh (orang yang membencimu) niscaya dia akan meledekmu”
Salah seorang shahabat beliau bercerita: “Suatu
kali, Syuraih mendengar keluhanku kepada seorang teman. Kemudian beliau
mengajakku ke suatu tempat lalu berkata: ‘Wahai putra Saudaraku.. janganlah
engkau mengeluh kepada selain Alloh.. karena sesungguhnya barangsiapa yang
mengeluh kepada selain Alloh berarti dia mengeluhkannya kepada teman atau
kepada musuh. Jika mengeluh kepada teman berarti kamu telah membuat temanmu
bertambah sedih… dan jika engkau keluhkan terhadap musuh (orang yang membencimu)
niscaya dia akan meledekmu”. Kemudian beliau berkata: “Lihatlah sebelah mataku
ini, demi Alloh aku tidak bisa melihat orang ataupun jalanan dengannya selama
lebih dri 15 tahun tapi aku tidak pernah memberitahukannya kepada siapapun
kecuali engkau sekarang ini”. “Tidakkah Engkau mendengar ucapan hamba Alloh
yang shalih:
“Aku hanya mengeluhkan segala kesedihan dan
keresahanku kepada Alloh.” (QS Yusuf:86)
Maka jadikanlah Alloh sebagai tempat
pengaduanmu dan mencurahkan keresahanmu setiap
kali musibah menimpa dirimu,
sebab Dia Maha Pemurah dan sangat dekat.”
_________________________________________________________________________
dinukil dari buku Shuwaru min Hayati at-Thabi'in (mereka adalah para Thabi'in) karya Dr. Abdurrahmah Ra'fat Basya pustaka At Tibyan Solo.
_________________________________________________________________________
dinukil dari buku Shuwaru min Hayati at-Thabi'in (mereka adalah para Thabi'in) karya Dr. Abdurrahmah Ra'fat Basya pustaka At Tibyan Solo.
(nawizam/muslimisme)
FREE!! Ebook Al Bidayah wan Nihayah (Ibnu Katsiir)
Assalamu'alaikum...
segala puji bagi Alloh semata, tiada ilah yang berhak disembah dengan benar selain Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas penutup para Rasul dan Nabi, Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam, atas keluarga dan para shahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari akhir kelak.
Berikut ada sebuah karya fenomenal dari Al Hafizh Abul Fida' Ibnu Katsir yang telah direvisi, ditahqiq, dan disusun kembali oleh Dr. Muhammad bin Shamil as-Sulami berisi tentang riwayat sejarah khulafaur rasyidin. Semua peristiwa direkam secara apik oleh al-Hafizh Ibnu Katsiir dalam buku ini. Beliau menyusunnya berdasarkan kronologi waktu dan peristiwa, buku ini disusun berdasarkan referensi dari sumber-sumber sejarah yang yang dapat dipercaya yang berasal dari riwayat-riwayat shahih.
Beliau selalu menyandarkan kepada Al Quran dan riwayat-riwayat hadits yang marfu' ataupun mauquf, baik hadits tersebut shahih maupun hasan. Di dalam buku ini selalu disebutkan hadits-hadits atau atsar lengkap dengan sanadnya agar para pembaca dapat mengetahui kedudukan sanad tersebut sehingga akan lebih mudah untuk mengkritisinya.
Buku (kitab) tersebut adalah AL BIDAYAH WAN NIHAYAH, alhamdulillah sudah ada dalam bentuk Ebooknya. Nah, tanpa perlu panjang lebar lagi silakan unduh secara gratis Ebook fenomenal tersebut disini. (43.2 MB)
courtesy of kampungsunnah.co.nr | penerbit DARUL HAQ Jakarta
(nawizam/muslimisme)
FREE!! Ebook Sifat Shalat Nabi
Shalat adalah tiang agama, apabila shalat kita baik maka akan baik pula agama yang ada pada diri seorang muslim dan sebaliknya jika sholatnya buruk maka bisa dipastikan agamanya akan buruk pula. Rosululloh bersabda:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat." (HR Al Bukhari dari Malik bin al Huwairits)
Dan Nabi mengabarkan bahwa shalat adalah penghibur diri dan penenang jiwanya, maka hendaknya seorang muslim menjaga shalatnya sebagaimana yang telah didiajarkan, hingga menjadi cahaya baginya dan keselamatan pada hari kiamat dengan izin Allah. Untuk menambah wawasan dan referensi mengenai sifat shalat nabi, berikut ini ada ebook tentang sifat shalat nabi karya Syaikh ibnu Jibrin-rahimahullah-. semoga bermanfaat.
unduh sifat shalat nabi.
Aku lepaskan bikini untuk Niqab, akhirnya aku bebas!
Seorang wanita Barat,
artis, aktivis feminis liberal, model, yang hidup layaknya seperti para wanita
Barat dalam gaya hidup dan cara berpakaian seperti menggunakan bikini, kemudian
masuk Islam setelah menyadari bahwa Islam sangat menjaga harga diri dan hak-hak
perempuan, dan ia kemudian memakai Niqab yang ia yakini sebagai simbol
kebebasan wanita, ia menulis kisahnya sebagai berikut:
Aku seorang wanita
Amerika yang lahir di tengah jantung Amerika. Aku tumbuh seperti gadis lainnya
(seperti biasanya wanita Barat –red), terpaku dengan hidup glamor di kota
besar. Akhirnya aku pindah ke Flourida dan kemudian ke Pantai selatan Miami,
pusatnya bagi yang mencari kehidupan glamor. Tentu saja aku melakukan apa yang
rata-rata para wanita Barat lakukan.
Aku fokus pada penampilanku dan mendasarkan diriku “berharga”
pada berapa banyak perhatian yang aku dapat dari orang lain. Saya bekerja
diluar batas keagamaan dan menjadi personal trainer, memperoleh sebuah rumah
tepi pantai kelas atas, menjadi seorang “penunjuk” pantai-bioskop dan dapat
mrncapai gaya hidup (ala Barat –red).
Bertahun-tahun
berlalu, hanya untuk menyadari bahwa skala ku dalam pemenuhan diri dan
kebahagiaaan meluncur turun, semakin aku berkembang di tampilan “feminim” ku.
Aku adalah budak fashion, aku adalah seorang sandera dalam penampilanku.
Karena kesenjangan berlanjut semakin melebar antara pemenuhan
diri dan gaya hidup, aku mencari pertolongan untuk terlepas dari alkohol dan
pesta ke meditasi, aktivisme, dan alternative agama. Akhirnya aku menyadari
bahwa semua itu (alkohol dan gaya hidup hedonis –red) hanyalah pembunuh
untuk “rasa sakit” bukan obat yang efektif.
Pada saat itu adalah
11 September 2001. Dimana aku menyaksikan serangan berikutnya adalah terhadap
Islam, nilai-nilai dan budaya-budaya Islam, dan deklarasi paling terkenal
“perang salib baru”, aku mulai melihat sesuatu yang disebut Islam. Hingga pada
saat itu, semua aku kaitkan dengan Islam, para wanita yang “terkurung dalam
tenda”, para pemukul Istri (kekerasan suami), dan dunia “terorisme”.
Sebagai seorang
feminis liberal, dan seorang aktivis yang mengejar dunia yang lebih baik,
jalanku bertemu dengan para aktivis lainnya yang telah lama mempimpin
“reformasi penyebab diskriminasi dan keadilan untuk semua (kelompok feminis)”.
Suatu hari, aku
menemukan sebuah buku yang stereotip negatif di Barat -Kitab suci Al Qur’an- .
Awalnya aku tertarik dengan gaya dan pendekatan Al Qur’an, dan kemudian
tertarik oleh prospek pada ekistensi, kehidupan, penciptaan, dan hubungan
antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Aku menemukan Al Qur’an menjadi alamat
wawasan untuk hati dan jiwa tanpa perlu seorang penerjemah atau pendeta.
Akhirnya aku menyentuh momentum kebenaran: penemuan baruku, pemenuhan diri,
aktivisme tidak ada apa-apanya dari menghargai sebuah keimanan yang dinamai
Islam, dimana aku dapat hidup di dalam damai sebagai muslim yang fungsional.
Aku membeli sebuah
gaun panjang yang indah (abaya) dan penutup kepala (kerdung) menyerupai
kode/simbol berpakaian muslimah dan aku berjalan menyusuri jalan dan lingkungan
yang sama dimana beberapa hari sebelumnya aku berjalan dengan celana pendek,
bikini, atau pakaian bisnis “elegan” Barat. Meskipun orang-orang, wajah-wajah,
dan semua toko sama, hal itu sangat berbeda, aku tidak merasa sedamai menjadi
seorang wanita yang saya alami untuk pertama kalinya itu. Aku merasa
seolah-olah rantai telah rusak dan akhirnya aku bebas. Aku sangat senang dengan
penampilan baruku, heran dengan wajah orang-orang (memandang) seperti pemburu
melihat mangsanya. Tiba-tiba beban berat dipundakku terangkat. Aku tidak lagi
menghabiskan waktuku untuk berbelanja, mengurus rambutku, dan bekerja.
Akhirnya, aku bebas!.
Dari semua tempat,
saya menemukan Islam saya di jantung apa yang disebut “tempat paling keji di
bumi”.
Disaat puas dengan
Jilbab, aku menjadi penasaran tentang Niqab, melihat meningkatknya jumlah
muslimah memakainya. Aku bertanya kepada suamiku yang Islam-yang aku nikahi
setelah aku berpindah ke Islam-apakah aku harus memakai Niqab atau hanya
memakai Jilbab yang telah aku pakai. Suamiku hanya menasehatiku bahwa dia
meyakini Jilbab adalah wajib sementara Niqab tidak.
Pada saat itu,
Jilbabku menutupi semua rambut kecuali wajahku, dan gaun hitam panjang yang
dikenal “Abaya” yang menutupi seluruh badanku dari leher hingga kaki.
Setahun setengah
berlalu, dan aku mengatakan kepada suamiku, aku ingin memakai Niqab. Alasanku,
saat ini adalah aku merasa itu akan membuat Allah Sang Pencipta lebih ridho,
meningkatkan perasaan damai karena menjadi lebih sederhana. Dia mendukung
keputusanku dan mengajakku untuk membeli “Isdaal”, sebuah gaun hitam panjang
yang menutupi tubuh dari kepala hingga kaki, dan Niqab, yang menutupi seluruh
kepalaku dan wajahku kecuali mataku.
Tak lama kemudian,
berita pelanggaran tentang politisi, pendeta Vatikan, para liberal, dan yang
menyebut diri para aktivis “hak asasi manusia” dan “kebebasan” mengutuk Jilbab
dan Niqab sebagai tekanan bagi perempuan, hambatan bagi integrasi sosial, dan
baru-baru ini, seorang pejabat Mesir mengatakan itu “adalah tanda
keterbelakangan”.
Aku merasa ini adalah
sebuah kemunafikan terang-terangan ketika pemerintah Barat dan yang menyebut
diri kelompok “hak asasi manusia” tergesa-gesa membela “hak-hak wanita” ketika
beberapa pemerintahan memberlakukan kode pakaian tertentu terhadap wanita,
seperti “para pejuang kebebasan” melihat ke arah lain ketika para wanita
dirampas hak-hak mereka, (seperti) pekerjaan dan pendidikan hanya karena mereka
memilih hak mereka untuk mengenakan Niqab atau Jilbab. Saat ini, para wanita
berjilbab atau yang mengenakan Niqab meningkat dilarang dari pekerjaan dan
pendidikan tidak hanya dibawah rezim totaliter seperti Tunisia, Maroko, Mesir,
tetapi juga “demokrasi” Barat seperti Prancis, Belanda, dan Inggris.
Hari ini, aku masih
seorang “feminis”, tetapi seorang “feminis muslim” yang menyeru para muslimah
untuk memikul tanggungjawab mereka dalam memberikan semua dukungan yang mereka
bisa untuk suami mereka untuk menjadi seorang muslim yang baik. Untuk
membesarkan anak-anak mereka sebagai muslim yang lurus sehingga semoga mereka
menjadi cahaya untuk semua ummat manusia, untuk memerintahkan kebaikan dan
melarang keburukan (dakwah). Untuk berbicara kebenaran dan untuk berbicara
melawan semua penyakit, untuk memperjuangkan hak-hak kami (muslimah) untuk
memakai Niqab atau Jilbab dan untuk mencari ridho Allah Sang Pecipta kita
dengan cara apapun yang kita pilih. Tetapi sama pentingnya membawa pengalaman
kita dengan Niqab atau Jilbab untuk sesama perempuan yang mungkin tidak pernah
memiliki kesempatan untuk memahami bagaimana memakai Niqab atau Jilbab berarti
untuk kita dan mengapa kita begitu mahal, dan mendukungnya.
Setuju atau tidak, para wanita (saat ini) dibombardir dengan
(propaganda -red) gaya “pakaian ‘sedikit’ tidak apa-apa” hampir di setiap sarana
komunikasi di dunia. Sebagai mantan non-Muslim, aku bersikeras untuk hak-hak
perempuan untuk sama-sama mengetahui tentang hijab, ini adalah kebajikan, dan
kedamaian dan kebahagiaan, membawa kehidupan seorang perempuan seperti yang
terjadi denganku. Kemarin, bikini adalah simbol dari “kebebasan” ku, ketika
pada kenyataannya itu hanya membebaskan ku dari spiritualitas dan nilai-nilai
kebenaran sebagai manusia yang terhormat.
Aku tidak dapat hidup
lebih bahagia untuk melepaskan bikini ku di pantai Selatan dan gaya hidup
glamor Barat untuk hidup di dalam kedamaian dengan Pencipta ku dan menikmati
hidup diantara sesame manusia sebagai seorang yang berharga. Ini mengapa aku
memilih Niqab, dan mengapa aku akan mati-matian membela hak asasi ku untuk
memakainya. Hari ini, Niqab adalah simbol baru untuk kebebasan wanita!.
Untuk para wanita yang
menyerah kepada stereotip buruk melawan kesopanan Islam, Hijab, aku katakan:
kalian tidak tahu apa yang kalian telah kehilangan!.
Sara Bokker
Sara Bokker adalah
mantan artis/model/instruktur fitness dan aktivis feminis yang telah masuk
Islam. Saat ini, Sara adalah direktur Komunikasi pada “The March For Justice”,
assisten pendiri “The Global Sisters Network” dan produser terkenal “The Global
Sisters Network”.
copas dari arrahmah.com


5/02/2013
muslimisME




