Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Keris “Empu Iblis”



Oleh: Ustadz Anshari Taslim.

Waktu saya SMA dulu, seorang ustadz saya menceritakan bahwa beliau punya seorang guru yang merupakan ulama besar di daerah Mempawah Kalimantan Barat pada masa penjajahan Belanda. Dia mempunyai seorang anak laki-laki kesayangan bernama Abdul Malik.

Suatu ketika Abdul Malik kecil jatuh sakit. Berbagai upaya pengobatan mulai yang tradisional sampai yang paling modern pada zaman itu sudah diupayakan. Bahkan, berbagai doapun sudah dipanjatkan tapi sang anak tak jua kunjung sembuh.

Suatu hari ketika keputusasaan mulai menghantui datanglah seorang tua berjenggot kepadanya menyampaikan, ”Anak kamu itu sebenarnya bisa sembuh dengan syarat kamu harus merawat keris pusaka yang ada di atas parak (semacam plafon dari kayu khas rumah melayu atau bugis di Kalimantan). Dulu leluhur kamu selalu merawatnya dengan memandikannya setiap malam Jum’at, tapi kamu sekarang melupakannya, makanya dia marah dan anak kamu menanggung akibatnya.”

Mendengar itu sang ulama ini lalu mencari keris dimaksud dan ternyata benar, keris itu tersimpan rapi di dalam peti di atas parak rumahnya. Tanpa pikir panjang diambilnya keris tersebut dan dibawanya ke pinggir sungai Mempawah lalu dilemparkannya ke sungai. Kemudian keluarlah sebuah pernyataan tauhid mengejutkan yang membuat bala tentara Iblis lari tunggang langgang, ”Kalau memang tak ada jalan lain untuk menyembuhkan si Malik kecuali dengan merawat keris ini, maka BIARLAH SI MALIK ITU MATI SAJA!! Aku tak sudi menjadi musyrik karenanya, hasbiyallah wa ni’mal wakiil (cukuplah bagiku Allah saja dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).”

Tak berapa lama si Malik kecil sembuh, bahkan sampai kisah itu diceritakan kepada saya beliau masih hidup dan terakhir menjabat di KANWIL DEPAG Kalimantan Selatan (kalau ngak salah).

* * * * *

Hikmah yang dapat dipetik dari cerita ini adalah terkadang memang ada penyakit yang disebabkan oleh gangguan jin. Biasanya menimpa anak kecil atau juga orang dewasa yang mana leluhut atau kerabat orang tersebut dulunya suka memelihara jin sebagai khadam. Atau mempunyai ilmu kesaktian dan berbagai jimat.

Bisa saja orangtua berjenggot yang menemui ayah Pak Malik tadi adalah jelmaan jin pula, sebagaimana jin pernah menjelma jadi manusia untuk mencuri barang zakat fitrah seperti dalam hadits riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya dari Abu Hurairah. Tujuannya menguji iman hamba Allah yang bersangkutan, sehingga kalau imannya goyah dan menyerah pada kemauan jin setan maka tauhidnya rusak.

Sebaliknya, bila seorang muslim tidak goyah dan menyerahkan semuanya kepada Allah, insya Allah pertolongan Allah akan datang. Kekuatan tauhid yang mukhlis akan membuat Iblis dan bala tentaranya gentar, sehingga mundur dan tak berani lagi berhadapan.

Maka hindari penggunaan benda-benda keramat, jimat, amalan kesaktian dan sejenisnya, karena pasti di belakangnya ada jin jahat, meskipun yang mengamalkan tidak mengakui. Dan orangtua hendaknya selalu meningkatkan sikap tawakkal kepada Allah, serta memperbanyak dzikir dan beramal hanya yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Dengan begitu, tauhid akan bersih dan berbagai gangguan dari makhluk Allah baik jin, manusia, binatang maupun bencana alam akan dapat diatasi dengan pertolongan-Nya.

Salah satu dzikir yang hendaknya dibacakan kepada anak terutama yang masih kecil baik dalam keadaannya sehat maupun sedang sakit adalah:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

”Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala setan dan bahaya yang berbisa serta dari pandangan mata dengki yang tercela.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah, ini adalah redaksi Ibnu Majah).

Saat membaca bisa dengan memandang si anak yang sedang tidur ataupun terjaga sambil memegang anggota tubunya, misalnya kepala, atau tangan atau badan.

Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan semua yang membaca. Amin.

Mengenang guruku Abdul Mu’in Ahmad (1921 – 1999) semoga Allah menerima amal ibadah beliau dan mengampuninya dan kita semua.

Bekasi, 24 April 2009.
(ans/nawizam)

The Power of Du'a, Dahsyatnya Kekuatan Do'a



Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata : Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami. Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… 

Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya… 

Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut. Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki. 

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu. Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah. Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya. Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku... 

Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya. Putriku bercerita : Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-. Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??" Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…

lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kami beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya… Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya… Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…" 

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh. Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku… Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan. Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. 

Iapun menangis…dan berkata,
اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ
Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..?? Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasanya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. 

Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma… Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya. Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur… Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup… Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah…. Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin.

(abuLuqman/Nawizam)

Keteguhan Hati Seorang Sa'ad bin Abu Waqash (radhiyallahu 'anhu)



Salah satu shahabat Nabi yang mulia—Sa’ad bin bin Abu Waqash—adalah seorang anak yang sangat berbakti kepada ibunya. Di usianya yang masih muda belia ia sudah menyambut seruan Rosululloh untuk masuk Islam pada awal kedatangan Islam di bumi Makkah al Mukaromah. Namun apa yang terjadi? Ibunya sangat marah manakala mengetahui putra tercintanya meninggalkan agama nenek moyang mereka dan memeluk Islam.

Ibunya berkata, “Wahai Sa’ad, agama apa yang kamu anut itu sehingga ia memalingkanmu dari agama ibu bapakmu? Demi Allah kamu harus meninggalkan agama barumu itu atau aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati dan hatimu teriris-iris karena kesedihanmu kepadaku, penyesalan akan mencengkerammu atas perbuatan yang kamu lakukan dan orang banyak pun akan mencelamu selama hidupmu!”

Sa’ad menjawab, “Ibu, jangan lakukan itu karena aku tidak akan meninggalkan agamaku (Islam) dengan alasan apapun.”

Ibunya benar-benar membuktikan ancamannya, dia tidak makan dan tidak minum selama berhari-hari sehingga badannya menjadi kurus, tulangnya melemah, dan kekuatannya lumpuh. Hari berganti hari namun bujukan anaknya tidak juga membuatnya mau untuk makan dan minum seperti sedia kala.

Pada suatu ketika Sa’ad berkata kepada ibunya, sebuah perkataan yang sangat baik dan menyebabkan salah satu firman Allah turun kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Sa’ad berkata, “Ibu, sekalipun aku sangat mencintaimu namun aku tetap lebih mencintai Allah dan Rasul Nya. Demi Allah, seandainya engkau mempunyai seribu nyawa lalu ia keluar dari jasadmu satu persatu, aku tetap tidak akan pernah meninggalkan agamaku (Islam) dengan alasan apapun.”

Melihat keteguhan hati sang buah hatinya itu maka hati sang Ibu pun luluh dan menyerah. Dia mulai makan dan minum sekalipun dengan terpaksa. Disaat itulah Allah menurunkan firmanNya,

وَإِنْ جَا هَدَكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَالَيسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبهُممَافِي الدُّنيَامَعرُوفًا

dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik ....” (QS Luqman : 15).

===========================================
dikutip dari Shuwaru min Hayatish Shahabah (Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya)
(nawizam)

Untukmu para (calon) Istri dan (calon) Suami


Tulisan ini kuperuntukkan kepada para isteri dan calon isteri, serta para suami dan calon suami. Semoga setelah membacanya akan mendapatkan HIKMAH, sehingga memahami makna yang mendasar arti sebuah pernikahan sehingga cita-cita membentuk keluarga yang sakinah-mawaddah- warahmah dunia-akhirat akan tercapai.
Pernikahan adalah proses Ijab-Qobul antara ayah calon isteri atau walinya kepada calon suami dengan mas kawin (mahar) yang telah ditentukan dengan disaksikan oleh para saksi. Dalam Al-Quran perjanjian ijab–qobul tersebut seperti perjanjian Alloh ta’ala dengan Rosul-Nya yang disebut Mitsaqon Gholizho (Perjanjian yang berat) dan ‘arsy Alloh bergetar karenanya. 

Setelah proses Ijab-Qobul tersebut, beralihlah tanggung jawab orang tua kepada suami. Pemenuhan kebutuhan lahir-batin, pembinaan dan perlindungan beralih kepada suami. Dengan kata lain suami Anda adalah wakil orang tua Anda. Sehingga ketaatan Anda kepada suami (dalam hal tidak bermaksiat kepada Alloh) adalah seperti ketaatan kepada orang tua Anda. Dan kedurhakaan Anda kepada suami (dalam hal tidak bermaksiat) adalah seperti kedurhakaan kepada orang tua Anda. Dan ridlo Alloh sudah tergantung kepada ridlo suami Anda, Alloh subhanahu wata'ala berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Alloh telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Alloh lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Alloh telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar." (Qs. An Nisaa’ : 34)

Hadits-hadits yang berkaitan dengan ini adalah sebagai berikut :
Ibnu Jarir dan al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi sholallohu 'alaihi wasallam bersabda:
“Sebaik-baik wanita adalah yang menawan hati-mu bila engkau pandang, taat manakala engkau perintah, dan menjaga hartamu serta memelihara kehormatan diri-nya ketika engkau tidak ada di rumah.” Kemudian Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam. membaca ayat tersebut di atas (Qs. An Nisaa’ : 34).

Dari Abu Umamah, dari Nabi sholallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada yang paling bermanfaat bagi se-orang (lelaki) Mukmin sesudah bertaqwa kepada Alloh daripada memiliki isteri yang shalihah, yaitu jika ia diperintah ia taat, jika ia dipandang menyenangkan hati, dan jika ia digilir ia tetap ber-buat baik, dan jika ia ditinggalkan (suaminya) ia tetap menjaga suaminya dalam hal dirinya dan harta suaminya.” (HR Ibnu Majah)

“Siapapun wanita yang meninggal dan suaminya ridho kepadanya , maka dia akan masuk surga". (Ibnu Majah , Ath Tirmidzy , HR. Muttafaqun ‘Alaihi) 

Al-Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi sholallohu 'alaihi wasallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab: “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?” tanya Rosululloh lagi. Ia menjawab: “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rosululloh bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612) 

Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam bersabda: “Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya."

"Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).” (HR. Ahmad 4/381. Dishahihkan sanadnya olehAsy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1998 dan Ash-Shahihah no. 3366) 

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا ، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ »
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi.” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 3524)

Dalam riwayat Muslim (no. 3525) disebutkan dengan lafadz: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak ajakan suaminya melainkan yang di langit (penduduk langit) murka pada istri tersebut sampai suaminya ridha kepadanya.”

Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat Surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya:
“ … Dan aku melihat NERAKA maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum WANITA.” Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rosululloh, Mengapa (demikian)?” Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Alloh?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)

dikutip dari tulisan Samara Dakta (dengan sedikit perubahan tanpa mengurangi makna)
(nawizam)

APA YANG SALAH DENGAN ANAK KEMARIN SORE?




Tadi malam saya sempat menyaksikan diskusi (baca: debat) di salah satu TV lokal Semarang, narasumbernya dari berbagai ormas Islam yang cukup familiar di negeri ini. Sayang sekali diskusi (debat) yang harusnya mencari solusi tersebut malah lebih cenderung menghakimi salah satu ormas "baru" yang dianggap "membahayakan" persatuan dan kesatuan kaum muslimin di Indonesia. Ada satu momen yang perlu saya garis bawahi, dan masih sangat jelas dalam ingatan saya saat dimana salah satu tokoh ormas—yang meng-klaim sebagai "omas besar" dan memiliki pengikut yang banyak—mengatakan kepada kubu yang lain dengan perkataan yang sungguh tidak pantas diucapkan oleh seorang panutan umat. Dia,tokoh ormas tersebut,berkata kepada ormas “baru” itu “mereka ini anak kemarin sore dan belum lama ngaji, tahu apa mereka?”

tidak hanya itu, dia juga berulang kali memotong pembicaraan pihak lain yang sedang berusaha mengklarifikasi pertanyaan-pertanyaan dari pembawa acara dengan kalimat-kalimat yang semakin menunjukkan kalau dia berbicara atas dasar nafsu semata. Sungguh sangat tidak layak dan sangat jauh dari akhlak para ulama-ulama generasi terbaik umat ini yaitu generasi para shahabat dan tabi’in dimana mereka—para shahabat dan tabi’in—lebih mengedepankan sifat lemah lembut dan menghargai pendapat orang lain sekalipun usianya jauh lebih muda darinya.

Masih ingatkah kita kisah amirul mukminin Umar bin Abdul Aziz dengan putranya (Abdul Malik)? Ketika itu beliau (Umar bin Abdul Aziz) dalam keadaan luar biasa lelah setelah seharian berurusan dengan urusan kaum muslimin. Sesampainya di rumah beliau hendak qailulah (tidur sejenak menjelang dzuhur) untuk mengurangi sedikit rasa lelahnya. Namun seketika itu juga datanglah Abdul Malik dan berkata, “Apakah ayah hendak tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizalimi?” Amirul mukminin menjawab, “Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika tiba waktu dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang dizalimi kepada pemiliknya, insya Alloh.” kemudian Abdul Malik berkata lagi, “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu dhuhur wahai amirul mukminin?”. Seketika itu juga Umar bin Abdul Aziz terhenyak dan hilanglah semua rasa kantuk yang ada pada diri beliau, kembaililah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah, beliau berkata “Mendekatlah engkau Nak, segala puji bagi Alloh yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.”

Sungguh betapa luar biasanya akhlak seorang ayah sekaligus seorang pemimpin umat yang mau mendengarkan dan melaksanakan nasihat “anak kemarin sore” yang tidak lain adalah putranya sendiri, Abdul Malik. Hal itu membuktikan bahwa beliau (Umar bin Abdul Aziz) adalah pribadi yang jujur terhadap kebenaran dan membuang jauh-jauh sifat sombong yang senantiasa menolak kebenaran karena alasan ini dan itu. Shahabat ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu pernah berkata :
إِنَّ اْلحَقَّ لاَ يُعْرَفُ بِالرِّجَالِ, اِعْرِفِ اْلحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ
“Sesungguhnya kebenaran itu tidak dikenali melalui orang-orang, namun kenalilah kebenaran, niscaya engkau akan mengenali orang-orangnya”.

Jadi, apa yang salah dengan “anak kemarin sore” jika yang mereka katakan dan suarakan adalah kebenaran, tentunya kebenaran yang bersumber dari Al Quran dan Sunnah yang shahih.

wallohu a’lam bisshowab.
(nawizam/muslimisme)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates